BLANTERVIO102

Cerita Misteri Kisah Nyata Memasuki Alam Gaib Wewe Gombel

Cerita Misteri Kisah Nyata Memasuki Alam Gaib Wewe Gombel
Sabtu, 01 September 2018
kisah cerita misteri memasuki alam gaib siluman wewe gombel
Penakut.com secara khusus menyajikan kumpulan cerita mistis misteri kisah hantu nyata yang horor paling seram dan menakutkan. Mulai dari cerita hantu disekolah, rumah sakit, rumah angker,cerita pesugihan, tersesat memasuki alam gaib, bercinta dengan hantu dan masih banyak lagi. Selamat menikmati.

Cerita Mistis Kisah Misteri Berkunjung ke Alam Gaib Wewe Gombel

Mbah Suro, demikian panggilan akrab penduruk Desa Kalitirto,Berbah, Sleman, Yogyakarta ketika menyapa lelaki renta itu. Meski usianya susah mendekati angka 100, namun tubuhnya masih termasuk sangat baik.Artinya, dia bélum pikun, bahkan masih memiliki ingatan yang prima.

Memang, orang seusia Mbah Suro sangat  jarang ditemui saat ini. " . .

Semasa muda sampai gaek, oleh masyarakat sekitarnya Mbah Suro dikenal suka tetulung, terutama dalam hal penyakit atau gangguan yang ada hubungannya dengan rnasalah gaib. Dia memang merniliki segudang kemampuan supranatural.

Menurut cerita, sejak masa mudanya dulu, Mbah Suro suka berguru kepada para kesepuhan. Kemudian ilmu yang diperolehannya dia gunakan untuk menolong sesama, tidak pandang bulu. Karena itulah kakek yang tidak kenal sekolahan ini, menjadi sangat disegani orang kebanyakan.

”Meski aku tidak sekolah, tapi dapat membaca dan menulis. Sedikit-sedikit saya belajar dari teman-teman sebaya,” aku kakek kekar itu.

Sebagai petani, di sela kesibukan musim tanam, saat-saat itulah Mbah Suro pergi melanglang buana mencari ilmu. Dia pun bercerita, "ilmu saya, banyak diperoleh dari Jawa Timur. Dan dari sekian banyak guru yang saya ikuti, yang menjadi idolaku, seorang guru yang bermukim di gunungTapal Kuda, yang arahnya di sebelah selatan kota Banyuwangi, Jawa Timur. ” Begitulah 'kata kakek yang suka memelihara bebek dan ayam warna putih itu.

Oleh Mbah Suro, guru panutannya yang tidak mau disebut namanya itu, bukan lantaran guru itu sangat sakti dan tinggi ilmunya. Namun karena sang guru itu memiliki jiwa yang luhur dan "andap asor”. Artinya, tidak sornbong.

”Biasanya, guru-guru yang pernah aku jumpai pasti ingin dikatakan dirinya orang yang merniliki daya linuwin dan secara demonstratif ingin dikatakan orang sakti mandraguna,' kata Mbah Suro.

Orang Jawa bilang, ”Ora telas tepak paluning pandhe, sisaning grenda”. Pendek kata dibilang orang ”duk deng”. Bahkan tidak pasang harga. Satu kalimat, Cuma satu baris kata-kata yang selalu diingat Mbah Suro, dari sang guru Tapal Kuda itu,

”Diam, berarti selamat”. Orang yang banyak omong, pasti cendrung banyak kemungkinan melakukan kekeliruan. Ngomong, apabila perlu saja. ”lebih baik suka mendengarkan, akan tambah pintar,”pesan sang guru.

Mungkin karena itu, Mbah Suro dikenal sebagai seorang yang pendiam dan senang hidup menyendiri, hingga usianya yang seudzur sekarang ini.
*******
Mbah Suro memiliki tetangga,namanya Sampan. Pemuda kelahiran Lamongan, Jawa Timur ini bercerita pengalaman gaibnya bersama Mbah Suro. Kebetulan, Sampan dan Mbah Suro kebetulan teman satu group ronda.

Jatah mereka adalah setiap malam Jum'at. Nah, malam itu kebetulanjatuh malam Jum’at Kliwon. Orang tua bilang, hari-hari itu dianggap hari yang sangat keramat. Disinilah Sampan melakoni pengalaman yang sulit diterima akal sehat itu.

Lewat tengah malam, sehabis meronda keliling kampung, sambil mengumpulkan ”jimpitan beras”, untuk kas kampung, tiba-tiba Mbah Suro berkata kepada Sampan,

"Kamu sudah pernah ketemu roh halus? Sebangsa Genderuwo?”

Sampan menjawab dengan gelengan kepala. "Ah, mana mungkin, Mbah! Wong aku takut melihat makhIuk—makhluk itu kok!” katanya.

"Saya ajak melihat, mau tidak? Dan janji kamu tidak bakalan takut?” ujarkakek pemberani itu.

"Kalau memang Mbah bisa menunjukkannya, saya janji tidak akan takut! " jawab Sampan, pemuda keluaran Ponpes Langitan, Jatim itu karena didorong oleh rasa penasaran.

Mbah Suro lantas melipat sarungnya. Kemudian diikatkan di perut dan menyelipkan senternya di pinggang.

"Nah, sekarang kau ikut aku. Kamu pegangan sarung ini dan pejamkan matamu. Jangan dibuka matamu kalau belum aku tiup tiga kali Kamu mengerti?” Sampan mengangguk.

“Dan ingat, sesampainya di sana nanti, kamu jangan bicara dengan siapapun, termasuk denganku, lngat juga, jangan makan apapun, meski kita disuguhi makanan. Kalau kau langgar, kamu akan mati kalap (hilang misterius). Tidak bias kembali ke asalmu!” pesan mbah Suro.

“Kamu janji, Sampan?” tegasnya.

"Saya janji, Mbah! " ujar Sampan.

Setelah pegangan sarung dan memejamkan mata, Sampan mulai merasa ada angin menerpa tubuhnya. Sementara terdengar Mbah Suro membaca mantera Ajian Panglemunan dengan suara pelan-pelan.

Dan kemudian setelah beberapa saat,terasa jidat Sampan ditiup tiga kali oleh Mbah Suro. Sesuai dengan pesan Mbah Suro, Sampan pun membuka matanya. Apa yang terjadi?

Begitu membuka matanya, Sampan langsung keheranan. Semula ia dan Mbah Suro berdiri di depan pohon Gayam besar,kini mereka telah berada di pintu gerbang sebuah rumah mewah, bersinarkan cahaya Iampu dengan warna serba biru.

Meski heran, Sampan tak berani bertanya. Begitu masuk rumah, di dalam rumah sudah banyak tamu-tamu duduk bersila. Seperti Iayaknya orang kondangan, melingkar di ruang-ruang rumah. Tidak kurang dan 40 makhluk halus.

Dan, Sampan agak kaget, karena semua tamu-tamu itu tahu Mbah Suro datang. Mereka menyambut dan terus berdiri, menghampiri, seraya memberisalam, tanpa terdengar ucapan sedikitpun.

Mbah Suro, langsung memasuki kamar sebelah. Tersingkap gordennya, terlihat seperti ada perempuan sedang meneteki bayi. Rupayanya ada yang babaran alias baru melahirkan.

"Tadi itu memang ada Wewe yang baru melahirkan. Aku diundang kesana untuk melihat keadaannya,” cerita Mbah Suro kepada Sampan saat mereka kembali ke alam nyata.

Masih cerita Sampan, bahwa lelembut yang kondangan itu rupanya terdiri dari berbagai jenis roh halus atau jin. Makhluk-makhluk itu bentuk dan rupanya memang menakutkan. Ada yang bermata satu ditengah dahi. Bertelinga panjang, seperti telinga sapi. Ada yang mulutnya membujur ke atas, kepalanya bertanduk.

Sangat mungkin semua itu terdiri dari makhluk halus yang disebut: Genderuwo, Banaspati, Tektekan,Jaggitan, Sunde! Bolong, Keblak,Tuyul, Peri, Wewe, Tong-tongsot dan masih banyak lagi.

Herannya, dalam pandangan Sampan saat itu, ada yang sedang gaple, main remi, main domino, dan juga main kartu Cina. Juga terlihat berserakan suguhan makanan seperti yang ditemui di alam kita. Makanan itu di antaranya ada lemper, sagon, pisang rebus, ubi, dll.

”Pokoknya miriplah dengan dunia kita,” kata Sampan. '

Mereka juga sepertinya bercanda satu sama Iain. Namun, sekali lagi, semua tidak terdengar suaranya. Padahal, di mata Sampan mereka tampak seperti tertawa terbahak-bahak. Tapi, kok tidak mangeluarkan suara? lnilah keanehan yang sulit dijawab.

Begitu terdengar adzan Subuh, seperti dikomando, serempak semua bubar. Entah akan pergi ke mana mereka Kami pun, kata Sampan, bersama  Mbah Surojuga ikut meninggalkan tempat,setelah saling bersalam-salaman.

 "Tangannya terasa dingin, seperti tangan mayat," tegas Sampan sambil bergidik ngeri. Itulah pengalaman memasuki alam gaib yang tidak semua orang mengalaminya.
Share This Article :
iq bisnis

TAMBAHKAN KOMENTAR