BLANTERVIO102

Cerita Mistis Misteri Terjebak di Kerajaan Jin Gunung Sanggarudang

Cerita Mistis Misteri Terjebak di Kerajaan Jin Gunung Sanggarudang
Sabtu, 08 September 2018
kisah misteri cerita mistis naik gunung
Penakut.com secara khusus menyajikan kumpulan cerita mistis misteri kisah hantu nyata yang horor paling seram dan menakutkan. Mulai dari cerita hantu disekolah, rumah sakit, rumah angker,cerita pesugihan, tersesat memasuki alam gaib, bercinta dengan hantu dan masih banyak lagi. Selamat menikmati.

Cerita Kisah Mistis Misteri Nyata Gunung Sanggarudang

Sabtu sore, 21 Februari 2004. Aku dan teman-teman telah siap berangkat melakukan pendakian ke Gunung Sanggarudang. Kami berangkat dari rumah teman yang bernama Anto, yang bertempat tinggal di Batang Toru, dengan menggunakan sebuan jeep.

Tujuan pertama kami adalah Desa Aek Badak, sebuah desa di kaki Gunung Sanggarudang. Kami tiba di desa itu pukul 17.00 WIB. Setibanya di desa itu, kami Iangsung melapor ke kepala desa setempat, sekaligus minta izin untuk bermalam.

Tak lupa kami menceritakan maksud dan tujuan kami. Ternyata kami diterima baik di desa itu. Oleh Pak Kades kami disuruh bermalam di rumah Opung Togar, sesepuh desa. Malam harinya kami diberi nasehat dan juga cerita-cerita bernuansa mistik seputar Gunung Sanggarudang.

Menurut Opung Togar, 70 tahun, dulu pernah ada sekelompok pendaki yang berbuat kurang baik di puncak Gunung Sanggarudang. Akhirnya mereka dijumpai ular bermahkota dan makhluk seram berbulu lebat dan perut buncit.

Melihat itu semua, mereka berlari turun gunung dan akhirnya pingsan. Masih menurut Opung Togar, dulu ada seorang jawara yang tengah mengambil air nira dengan menggunakan bambu sebagai tempat penampungannya.

Karena airnya tidak kunjung menetes, dia pun marah dan melemparkan bambu tadi ke arah Gunung
Sanggarudang. Anehnya, bambu itu tertancap di tanah dengan terbalik dan tumbuh hingga sekarang, dengan akarnya menghadap ke atas.

Orang-orang desa percaya bahwa bambu itu memiliki kekuatan magis yang tinggi. Pagi hari, kami langsung minta izin dan berpamitan setelah selesai sholat Subuh.

Semua persiapan kami periksa, tak lupa sebuah senapan dan kamera kami bawa. Pagi hari udara terasa amat dingin menusuk tulang.

Kami terus berjalan melewati jalan setapak dan semak belukar. Jalan terasa licin, karena tadi malam hujan turun dan kami harus hati-hati agar tidak terjatuh.

Dalam perjalanan firasatku mengatakan ada yang tidak beres. Aku merasa seolah-olah kami diikuti oleh
beberapa orang yang membawa senjata. Aku merasakan itu karena indera keenamku telah berfungsi.

Aku tidak memberitahukan pada teman-temanku, takut nanti mereka tidak melanjutkan perjaianan. Dengan susah payah akhirnya kami sampai di puncak Gunung Sanggarudang pada pukul 12.30 WIB.

Untuk melapas lelah aku mencoba menikmati pemandangan alam dari puncak sambil memotret keindahan alam. Sementara teman-temanku sedang asyik bermain gitar sambil bernyanyi.

Ketika asyik menikmati keindahan alam, tiba-tiba mataku tertuju seekor burung Murai Batu yang amat indah. Tanpa pikir panjang aku segera mengambil senapan.

Kubidik burung itu dan kutembak. Ternyata sasaran tepat dan burung itu terjatuh ke semak belukar. Aku berusah mengejar dan mencarinya.

Tanpa sadar ternyata aku telah jauh meninggalkan teman-temanku. Tiba-tiba aku tersentak kaget, karena di depanku berdiri sebuah istana dengan dinding emas permata dan lantainya dari keramik.

Entah kekuatan apa yang menuntunku,sehingga aku masuk ke istana itu. Aku melihat makhluk yang sangat seram-seram. Ada yang matanya besar, perutnya buncit, kupingnya Iebar dan tubuhnya di penuhi bulu.

Tiba tiba tanganku di tarik dua pengawal yang membawa tombak. Mereka membawaku ke sebuah ruangan yang megah. Di sana duduk sebuah makhluk dengan wajah buruk dan bermata satu.

Aku dibawa menghadap makhluk itu. Salah seorang berkata kepada makhluk itu.

"Ini dia Baginda yang telah menembak burung kesayangan Tuan Putri! ”

Aku bingung sekali dengan kata-kata itu. Sang Raja Jin itu menatapku dengan mata menyala dan berkata;

"Hai anak muda! Beraninya kau menembak burung kesayangan putriku?! Kalau begitu kau
harus dihukum. Kau harus menikah dengan putriku. ” katanya sambil menunjuk seorang
perempuan yang amat buruk.

Perempuan itu matanya keluar, payudaranya sampai kelantai dan berbulu Iebat. Mendengar perkataan sang Raja itu, aku memberanikan diri untuk berbicara.

"Maafkan saya, Tuan, saya tidak sengaja menembak burung itu. Jadi saya tidak berhak untuk dihukum. Dan sekarang bebaskan saya, " kataku.

Sang raja itu tertawa seraya berkata, " Kalau kau tidak mau menikah putriku, rasakan ini! ”

Dia menyuruh anak buahnya memukulku. Aku di cambuk habis-habisan dan dipukul hingga babak belur. Dalam keadaan Iemah dan terkapar, aku membaca ayat-ayat AI-Qur’an, surat An'nas dan menyebut Asma Allah.

Setelah itu aku pun tidak ingat apa-apa lagi. Setelah sadar ternyata aku masih berada di puncak Gunung itu. Dan dengan sisa-sisa tenaga yang kumiliki aku berusaha untuk turun dari gunung itu.

Aku dirawat di rumah Opung Togar. Di sana telah berkumpul keluargaku dan teman-temanku yang ikut mendaki. Kuceritakan semuanya pada mereka. Dan ternyata aku sudah hilang selama 5 hari. Dan aku dari Gunung itu adalah hari Kamis, 26 Februari 2004. Allah SWT telah menolongku. Sumber: Misteri
Share This Article :
Eko Susilo

TAMBAHKAN KOMENTAR