BLANTERVIO102

Cerita Misteri Pembalasan Hantu Gentayangan Korban Pembunuhan

Cerita Misteri Pembalasan Hantu Gentayangan Korban Pembunuhan
Rabu, 05 September 2018
cerita mistis kisah misteri dendam hantu gentayangan korban pemerkosaan
Penakut.com secara khusus menyajikan kumpulan cerita mistis misteri kisah hantu nyata yang horor paling seram dan menakutkan. Mulai dari cerita hantu disekolah, rumah sakit, rumah angker,cerita pesugihan, tersesat memasuki alam gaib, bercinta dengan hantu dan masih banyak lagi. Selamat menikmati.

Cerita Kisah Mistis Misteri Dendam Arwah Gentayangan Korban Pembunuhan

Sore itu sekitar pulul empat, Aku tiba dihotel tempat Dedi,sahabatku menginap. Setiap dating keJakarta jutawan muda berwatak playboy yang kini tinggal di Medan itu memang selalu memilih tinggal dihotel ketimbang dirumahku.

Dan alasannya sangat aku mengerti, Dia ingin bebas membicarakan tentang perempuan.

‘’Kalau dirumahmu , bias bias terus kena sensor isterimu yang cerewet itu,’’ kelakarnya.

Ketika tiba dikamarnya, ternyata Dedi masih tidur. Mungkin dia masih kelelahan, karena baru dating tadi siang sekitar pukul satu dan kuputuskan untuk menunggu di lobi hotel' sampai dia bangun dari tidurnya.

Saat hendak turun, di sebelah kamar Dedi, yakni kamar nomor 234, aku bertemu pandang dengan wanita muda berparas cantic dan tertubuh sintal. Wanita itu mengedipkan matanya, meskipun agak tidak kentara. Dan saat aku mengajaknya berkenalan, "dia menyambutnya dengan gembira.

"Namaku Soraya,” ujarnya setelah terlebih dahulu aku memperkenalkan namaku.

"Kalau tidak ke mana-mana, aku ingin mengajakmu ke restoran hotel. Aku ingin mentraktirmu. Bagaimana, mau?" Tawarku.Sejenak Soraya terdiam, seperti sedang mempertimbangkan ajakanku.

"Baiklah, saya setuju!” ‘Katanya kemudian sambil melirikku. Kami pun segera melangkah turun menuju ke restoran hotel.

"Soraya menginap di kamar 234 itu?" Tanyaku memecah kesunyian di antara kami, setelah selesai menyantap hidangan yang disajikan.

Mata Soraya sendu- menatapku, lalu perlahan-lahan menganggukkan kepalanya.

”Sendirian atau bersama suami?” Kulihat wajah Soraya jadi berubah murung. "Suami?" Ulangnya bertanya pula.

 "Tidak, saya belum bersuami!"

Menurut cerita Soraya, beberapa waktu lalu, tepatnya ketika masih kuliah di Bandung, dirinya-pernah diculik dan disekap berhari-hari di suatu tempat oleh seorang lelaki jutawan. Selama dalam penyekapan, dia berpuluh kali diperkosa oleh lelaki tersebut. Sejak kejadian itu, Soraya tidak lagi bergairah untuk menikah.

"Aku trauma! Selamanya aku tak mau menikah!  Soraya terisak isak…

Hatiku bagaikan teriris. Aku sungguh tidak menduga sama sekali bahwa Soraya pernah mengalami kejadian yang stragis itu.

"Aku benar-benar ikut merasa prihatin atas musibah yang telah menimpamu.Tabahkanlah hatimu, Soraya. Percayalah bahwa Tuhan itu Maha Adil. Dia pasti akan memberikan hukuman setimpal buat Ielaki biadab yang telah merusakmu kehormatan dan masa depanmu itu," aku mencoba menghiburnya.

Aku tak ingin melihat Soraya terus bersedih. Karena itu kucoba mengalihkan tema pembicaraan kepada hal-hal yang menyenangkan. Dan akhirnya,keceriaan kembali menghiasi wajah ayu Soraya.

"Sudan lama menunggu?” Tiba-tiba kudengar suara Dedi dari belakang, ketika kami tengah terlibat Canda yang seru. Dan tanpa kupersilahkan lagi, dia menarik kursi di antara aku dan Soraya, Ialu menghempaskan pinggulnya dengan gembira.

Ketika Soraya kuperkenalkan, Dedi tampak agak terkejut. Dia mengernyitkan kening, seperti teringat pada seseorang yang sudah lama tidak berjumpa dengannya.

"Rasanya kita pernah berkenalan, tapi aku tak ingat, entah dimana. Siapa nama Anda tadi?” Tanya Dedi.

"Soraya," sahut Soraya sambal tersenyum. "Apa kita pernah bertemu?”

"Entahlah, tak kuningat. Tapi biarlah, yang penting sekarang, Anda sendiriankan?”
"Ya, benar. Saya memang sendirian."

"Wah, rupanya sudah biasa di zaman modern sekarang, wanita karir hidup sendirian. Seperti anda, misalnya,”kata Dedi seraya berpaling ke arahku dan mengedipkan matanya. lni kuterjemahkan sebagai isyarat agar aku segera pergi, sebab dia pasti akan mengencani Soraya.

Senja terus merambat. Aku bangkit berdiri Ialu memanggil pelayan. Namun ketika hendak membayar rekening, dengan cepat Dedi mencegah.

"Biarkan aku yang mentraktir, boleh kan, Soraya?” Katanya.

Soraya tersenyum, tanda tidak menolak. Lalu kuulurkan tangan pada Soraya,

”Maafkan Soraya, aku pergi du|u,” kataku.

"Mau pulang?” Tanya Dedi.

Aku mengangguk, tapi kemudian berjanji bahwa besok akan datang lagi ke hotel untuk menemuinya.

”Maklumlah, kalua ada istri, mana bebas," sindir Dedi seolah ingin membuka kartu matiku di depan Soraya. Aku tersenyum kecut. Tapi, aku maklum dengan watak Dedi yang playboy itu. Tiap ada cewek cantik, pasti dia ingin menguasainya,bahkan langsung menidurinya.

Malamnya sekitar pukul 12, Dedi mengontakku lewat telepon. Ketika kusahuti, Dedi tertawa terbahak bahak.

”kau jangan cemburu, Agus. Asal tahu saja, saat ini Soraya berada di kamarnya,sedang menunggu kedatanganku. Kau tahu kan, apa yang bakal kami lakukan?” Kata Dedi dari seberang dengan nada penuh kemenangan.

"Anda memang benar-benar seorang jagoan, Bung! " Jawabku, sambil mendongkol dalam hati.

”Ya, sudahlah Kau tiduri saja isterimu yang cerewet itu,” tambahnya sambal terkekeh. Aku pun ikut tertawa dengannya.

Pagi harinya ketika iseng-iseng Dedi kutelpon, yang menjawab adalah petugas hotel. Dia meminta agar aku segera datang.

“Ada apa? Kenapa aku harus segera datang?” Tanyaku di balik corong telepon.

"Pokoknya Bapak datang saja.Sahabat Bapak sangat memerlukan bantuan," tegas petugas hotel itu, penuh permohonan.

Aku mulai cernas. Segara saja aku memacu mobil menuju hotel. Setibanya di tempat yang dituju, aku melihat banyak orang berkerumun di depan kamar 234. Apa yang terjadi, pikirku kian cemas.

Manager hotel buru-buru mendapatiku. Katanya, Dedi ditemukan mati dalam keadaan sangat mengerikan dalam kamar hotel 234. Padahal kamar itu kosong, dan Dedi bukanlah penyewa kamar tersebut.

"Apa yang terjadi?” aku kebingungan sendiri.

"Kami rasa, ini pembunuhan. Polisi sudah kami hubungi," jawab Manager hotel.

Di depan polisi yang memeriksa mayat Dedi, room boy yang bertugas malam itu, Wardiman, mengatakan bahwa pagi sebelum jam tugasnya berakhir, tiba tiba dia melihat ada sebuah karangan bunga di depan kamar 234.

" Karangan bunga itu jelas untuk orang mati. Mungkin ada seseorang yang mengirimkannya. Lalu saya mengetuk pintu. Karena tak ada sahutan, saya segera menghubungi resepsionis.

Saya menanyakan, siapa penghuni kamar 234 itu..

Apa jawaban resepsionis? Kamar itu kosong, tak ada penghuni yang menyewanya. Dengan kunci duplikat, asisten manager membuka kamar tersebut. Dan ternyata ada mayat Pak Dedi, yang kamarnya bukan di situ,” jelas Wardiman.

Aku tercenung. Ketika giliran aku diperiksa, segera kuakui bahwa kemarin sore ketika akan menemui Dedi, aku berkenalan dengan Soraya yang keluar dari kamar 234. Dan di restoran hotel kuperkenalkan wanita itu dengan Dedi.

”Malamnya sekitar pukul 12.00, Dedi sempat menelponku. Dia mengatakan bahwa akan segera menjumpai Soraya di kamarnya yakni kamar nomor 234," imbuhku.

"Tapi bagaimana Dedi bisa masuk ke dalam kamar 234 itu, sementara kuncinya ada pada kami?" Tanya asisten manager hotel kemudian.

Aku sendiri hanya bisa mengangkat pundak. Tidak tahu, bagaimana semua itu dapat terjadi. Dan satu-satunya permintaanku adalah, aku ingin mengembalikan Dedi yang kini telah menjadi mayat ke Medan, untuk diserahkan kepada keluarganya.

Setelah tiga hari mayat Dedi dipulangkan, aku menerima sepucuk surat yang dikirimkan oleh petugas pos. Yang membuatku tertegun, si pengirimnya adalah Soraya. Pada sampul surat itu pun tertera sebuah alamat yang terletak di Bandung.

Karena kupikir surat ini bisa dijadikan sebagai alat pengendusan jejak pelaku pembunuhan Dedi, sahabatku, maka kuserahkan kepada polisi.

Polisi Jakarta segera mengirimkan telegram ke polisi Bandung, untuk memeriksa alamat yang ditinggalkan Soraya pada suratnya yang dikirim padaku. Ternyata, alamat Soraya itu tidak lain dari sebuah pekuburan. Dan dari pemeriksaan di pekuburan diperoleh batu nisan bertuliskan Soraya.

Aneh sekali, Adapun isi surat itu intinya adalah
sebagai berikut :
”Kematian Dedi adalah pembalasanku. Pembalasan terhadap lelaki jahanam yang kejam. Ketahuilah, setelah memperkosa,lelaki iblis itu lalu membunuhku.”

Sampai sekarang, aku tak habis pikir,bagaimana kematian Dedi itu dapat terjadi. Tapi yang jelas, temanku itu telah menghancurkan kehormatan seorang gadis dan kemudian membunuhnya. Dan beberapa tahun kemudian si gadis berhasil membalaskan dendamnya, dengan cara mencabut alat vital dan mencungkil kedua biji mata Dedi, di sebuah hotel.

Mungkinkah dari seorang yang telah mati dalam membalas dendam dan membunuh orang yang telah menghabisi nyawanya? Hingga kini aku tak bias menjawab pertanyaan ini. Sumber: Misteri
Share This Article :
Eko Susilo

TAMBAHKAN KOMENTAR