BLANTERVIO102

Kisah Cerita Mistis Horor Misteri Sepatu Dibawah Peti Mayat

Kisah Cerita Mistis Horor Misteri Sepatu Dibawah Peti Mayat
Jumat, 07 September 2018
cerita misteri kisah nyata hantu
Penakut.com secara khusus menyajikan kumpulan cerita mistis misteri kisah hantu nyata yang horor paling seram dan menakutkan. Mulai dari cerita hantu disekolah, rumah sakit, rumah angker,cerita pesugihan, tersesat memasuki alam gaib, bercinta dengan hantu dan masih banyak lagi. Selamat menikmati.

Cerita Mistis Misteri Sepatu Misterius Dibawah Peti Mayat

Sebagian orang batak yang masih tradisional percaya, menaruh alas kaki baik itu sandal atau sepatu dibawah kolong peti jenazah yang ada mayatnya merupakan suatu hal yang sangat tidak sopan, bahkan tabu.

Apalagi jika alas kaki tersebut ditaruh diposisi kepala jenazah. Bahkan orang yang meninggal diposisi kepala,punya maksud berbau mistis.Dengan menaruh sepatu atau sandal diposisi kepala orang yang sudah meninggal maka arwah orang itu tidak akan mengganggu siempunya sandal atau sepatu tersebut.

Adapun alasan utama orang dengan sengaja, mesti sembunyi sembunyi meletakkan alas kakinya dibawah peti jenazah pada posisi kepala orang mati adalah supaya arwah orang tersebut tidak mengganggunya.

Tindakan tercela ini biasanya dilakukan oleh seseorang yang punya masalah atau dosa terhadap orang yang mati semasa hidupnya.

Biasanya pelaku merupakan orang dekat sang jenazah. Dengan meletakkan alas kaki diposisi kepala jenazah, maka si arwah tidak berkutik selama lamanya. Dengan demikian arwahnya tidak gentayangan untuk mengganggu sipemilik sepatu tersebut.

Kasus seperti ini memang sudah agak jarang terjadi.Penyebabnya antara lain kehidupan yang sudah semakin modern dan rasional. Disamping itu ajaran agama, juga memegang peranan penting sehingga praktek praktek tercela seperti ini sudah kehilangan pamor.

Cerita Mistis Misteri Sepatu di Bawah Peti Jenazah

Sebut saja Pardi 30 tahun yang berasal dari salah satu desa di Sumatra Utara dan saat ini berdomisili dibilangan Bekasi, Jawa Barat pernah mengalami peristiwa yang berhubungan dengan masalah diatas.

11 tahun lalu, sewaktu masih berstatus mahasiswa di salah satu universitas swasta  Jakarta, dalam tiga malam berturut-turut, dia bermimpi di datangi oleh ibunya yang tinggal di kampung.

"Saat itu saya belum tahu kalau ibu saya yang sudah menjanda itu sudah meninggal dunia,” kenang.Pardi.Maklumlah, selaku mahasiswa yang kondisi ekonominya pas-pasan, dia tinggal di sebuah rumah indekosan yang sangat sederhana. Selain tidak mernpunyai telepon, lokasi rumah itu pun agak terpencil dan sulit di jangkau alat transportasi.

Sanak keluarganya yang tinggal di Jakarta dan sekitarnya, tentu merasa kesulitan mencarinya guna memberitahukan kabar duka itu.

Berita sedih itu baru sampai kepadanya pada hari ke-3 sang lbu disemayamkan di rumah mereka di kampung.Itupun setelah salah seorang saudara sepupunya berinisiatif mendatanginya kekampus. Dan tanpa mernbuang waktu,Pardi segera berangkat dengan pesawat yang tiketnya telah disiapkan oleh sanak keluarganya yang tinggal di Jakarta secara patungan.

Menurut Pardi, dalam mimpinya selama tiga hari berturut-turut itu, ia dipanggil ibunya supaya segera pulang ke kampung. Awalnya Pardi menganggap mimpinya itu hanya bunga tidur yang tidak bermakna apa-apa.

Sama sekali dia tidak punya firasat kalau pada saat itu ibunya telah tiada. Pada malam kedua, ketika sosok ibunya hadir kembali dalam mimpinya dan memanggil-manggil pulang ke kampung, barulah Pardi merasa ada sesuatu yang ganjil.

Apalagi dalam mimpinya itu dia melihat wajah ibunya sedang panik seperti ketakutan. Saat itu Pardi mencoba mengartikan mimpinya,bahwa ibunya mungkin sedang merindukan kehadirannya. Maklumlah,sejak merantau ke Jakarta untuk kuliah,sudah hampir empat tahun dia tidak pernah pulang kampung.

"Saya pun berjanji dalam hati akan pulang kampung jika ujian semester selesai,” kenang Pardi lagi yang kini bekerja di sebuah perusahaan swasta.

Pada malam ketiga, mimpinya semakin membuat gelisah. Soalnya ibunya yang muncul dalam mimpi itu sudah sampai menangis menyuruhnya pulang kampung.

Malam itu Pardi benar-benar tidak dapat melanjutkan tidurnya lagi. Dan pagi harinya, ketika mengikuti kuliah pada jam pertama, dia dipanggil ke kantor fakultas.

Di sana dia melihat dua saudara sepupunya dengan wajah sendu. Tanpa banyak basa-basi, saudaranya itu membisikkan kalua ibunya sudah meninggal di kampung tiga hari yang Ialu. Sulitnya mencari alamat, sehingga kabar penting itu terlambat sampai ke Pardi.

Tanpa sempat mengganti baju, Pardi langsung diantar kedua saudaranya itu ke Bandara Soekarno-Hatta, untuk selanjutnya terbang dengan pesawat Garuda menuju Bandara Polonia, Medan, Sumatera Utara.

Tiba di Medan pukul 12 siang, Pardi masih melanjutkan perjalanan dengan bus ke kampung halamannya. Sesampai di kampung sore hari, Pardi mendapati jenazah ibunya sudah dimasukkan ke dalam peti, sebab akan dimakamkan besok sore.

Menurut anggota keluarga, kematian ibunya yang serba mendadak itu dikarenakan penyakit lamanya yang tiba-tiba kambuh. Selama ini memang ibunya mengidap penyakit komplikasi yang sudah tergolong akut.

Hanya karena daya tahannya yang kuatlah maka wanita yang saat itu menapaki usia 60 tahun, selalu lolos dari maut.

Semula Pardi sangat curiga terhadap salah seorang kakak iparnya yang selama ini kurang harmonis dengan ibunya. Dimata Pardi isteri abangnya yang satu ini memang keras dan judes, dan tidak dapat berbaur dengan ibu yang memiliki sifat halus dan perasa.

Bahkan dia sering mendapat informasi dari adik dan anggota keluarga lain, kalau kakak iparnya yang bernama Rita ini sering dengan sengaja bertingkah menyebalkan sehingga perasaan ibunya yang sensitif itu semakin terluka.

Pardi yakin, salah satu faktor yang mempercepat proses kematian ibunya adalah tingkah laku kakak iparnya yang sering melukai dan membuat ibunya tertekan batin. Berangkat dari keyakinan itulah Pardi memendam rasa benci terhadap kakak iparnya itu.

Namun kebencian itu tidak diperiihatkannya secara terang-terangan. Rasa bencinya semakin menjadi jadi, sebab kakak iparnya itu tidak memperlihatkan rasa sedih sedikit pun dengan kematian ibunya.

Bahkan ada kesan,perempuan berusia 35 tahunan itu sangat senang dan bahagia dengan kepergian ibu mertuanya tersebut. Soalnya tidak akan ada lagi mertua yang cerewet dan mengomelinya.

Pagi hari, beberapa jam sebelum peti jenazah ibunya ditutup Pardi duduk bersimpuh di samping peti sambal mengamat-amati wajah ibunya yang sudah mengeras karena disuntik bahan kimia pengawet mayat,’’formalin’’.

Hati Pardi semakin memelas karena wajah ibunya seperti menahan rasa sakit. Saat perasaannya terhanyut memandang wajah jenazah wanita yang melahirkannya itu,seperti ada tenaga yang menggerakkan tangannya, dia lalu menggerayangi kolong peti jenazah, dan menyentuh sesuatu benda yang terletak persis di bawah kepala jenazah.

Tanpa pikir panjang benda itu dikeluarkan. Ternyata sepasang sepatu wanita!

Siapa pemilik sepatu itu tentu sulit diketahui, soalnya pada saat jenazah disemayamkan, rumah selalu ramai dengan sanak keluarga ataupun orang-orang yang melayat siang dan malam.

Tanpa bertanya kepada orang lain, sepatu itu dia sembunyikan di tempat lain. Dia merasa heran melihat perubahan di raut wajah ibunya yang kini seperti tenang dan damai. Bisa jadi kekuatan mistis sepatu itu sudah terlepas sehingga roh ibunya kini merasa tenang, yang nampak pada perubahan pada raut wajah jenazahnya.

Pardi yang merasa geram terhadap sipemilik sepatu, hanya mendiamkan saja temuannya itu.

Menjelang sore hari, ketika acara ibadah pemberangkatan jenazah akan dimulai, dia melihat kakak iparnya kasak-kusuk di samping peti jenazah.

Sambil duduk seperti orang yang tengah bersimpuh, tangan wanita beranak empat itu menggerayangi kolong peti jenazah, seperti mencari  sesuatu. Dari sinilah Pardi yakin, ternyata kakak iparnya itulah si pemilik sepatu.

Kini dia tentu mencari sepatunya itu yang entah sejak kapan ditaruh di bawah peti jenazah.Menyaksikan raut wajah kakak iparnya yang pucat pasi dan panik, Pardi diam diam merasa geli.

Dan sepanjang acara pemakaman, hingga semua orang kembali ke rumah, kakak iparnya selalu murung dan gelisah. Sangat berbeda dengan beberapa waktu sebelumnya, yang selalu manampakan raut girang dan sumringah.

Pardi pun mulai bisa menebak nebak maksud kakak iparnya menaruh sepatu di kolong peti jenazah, tentu karena takut diganggu arwah ibunya yang diakhir hidupnya sering disakitinya. Pardi yang sebenarnya tidak terlaiu percaya hal-hal berbau mistis seperti itu, tidak mau ambil pusing.

Dia hanya merasa senang dan bahagia melihat raut wajah ibunya yang tenang dan damai ketika peti jenazah ditutup, sebelum dibawa ke pemakaman.
*************
Hari berikutnya menjelang tengah malam, ketika kaum laki-laki kerabat dan keluarga berkumpul di rumah peninggalan almarhumah, tiba tiba terdengar suara jeritan dari rumah abang Pardi yang letaknya sekitar sepuluh meter di belakang rumah peninggalan ibunya.

Secara spontan abangnya serta beberapa kerabat segera berhamburan menuju arah suara. Di rumah itu nampak kakak iparnya menggigil ketakutan didampingi empat anaknya. Ketika ditanyakan, wanita yang nampak pucat pasi itu tidak mampu bersuara.

Dengan mata seperi terbelalak dia hanya menunjuk-nunjuk kearah dapur. Salah seorang kerabat yang punya kemampuan spiritual segera mafhurn kalau wanita itu baru saja melihat sosok ibu mertuanya yang baru beberapa jam yang lalu dimakamkan.

Sejak saat itu, perempuan bernama Rita itu tidak berani Iagi sendirian di rumahnya. Beberapa anggota keluarganya diminta menemani di rumah itu. Meski demikian, hal itu tidak banyak membantu.Sebab pada tengah malam, tidak jarang dia tiba.-tiba terbangun dan berteriak-teriak ketakutan.

Katanya dia didatangi oleh arwah ibu mertuanya. Gangguan itu tidak pernah berhenti, baik siang maupun malam. Pada pagi hari misalnya, ketika sedang menyiapkan sarapan pagi di dapur, tiba-tiba gelas dan piring berbunyi seperti ada yang mengambil dari rak.

Padahal tidak ada siapa-siapa selain dia. Jika sudah begini, dia langsung kabur dan berteriak-teriak. Gangguan seperti ini berlangsung sampai berbulan-bulan. Dan atas saran pihak keluarga, sambil meminta maaf atas segala perlakuannya selama ini.

Dan bukan hanya satu kali itu dia melakukan Ziarah. Pada hari-nan knusus, misalnya menjelang hari besar keagamaan, seperti Natal, Paskah, dan hari ulang tahun kelahiran maupun nan kematian ibu, makamnya diziarahi sebagai wujud penyesalan atas segala perlakuannya yang dulu.

Sejak melakukan ziarah rutin itu,gangguan yang dialaminya pun sernakin berkurang.

Menurut Pardi, kakak iparnya itu telah menerima imbalan yang setimpai atas dosa dosanya terhadap ibunya. Tapi itu sernua karena tindakan Pardi yang tanpa sengaja menyingkirkan sepatu yang diletakkan dibawah kolong peti jenazah ibunya.

”Coba kalau sepatu itu tetap berada di situ sampai peti jenazan ditutup. Bisa-bisa arwah ibuku tidak berkutik, dan malah menderita selamanya di alam baka," kata Pardi yang mulai dapat memahami bahwa kejadian-kejadian mistis memang bisa saja menimpa orang-orang tertentu sebagai buah tingkah lakunyajuga.

Akibat sepatu dibawah peti mayat itu pula sang ibu selalu memanggil-manggilnya untuk pulang kampung. ”Rupanya ada tugas penting yang hendak saya laksanakan, yakni menyingkirkan penghalang jalan arwah ibuku menuju alam baka,” urai Pardi sambil tersenyum. Sumber: Misteri
Share This Article :
Eko Susilo

TAMBAHKAN KOMENTAR